Blog WordPress

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 1
Ditulis oleh Irvan Nurfazri

Blog atau website kamu memiliki banyak konten yang luar biasa, namun jumlah pengunjung hanya berhenti diangka segitu saja? Hal ini mungkin saja disebabkan oleh kecepatan website kamu terlalu lambat diakses oleh pengunjung, sehingga pengunjung tidak sabar untuk menunggu lama hanya untuk konten yang ingin dia baca.

Blog yang lambat sangat mungkin untuk ditinggalkan oleh calon pembaca, mereka memilih untuk menemukan konten yang serupa di Google dengan blog yang memiliki loading lebih cepat dibanding blog milik kamu.

Agar memaksimalkan perfoma blog yang kamu kelola. Kali ini saya akan memberikan tips untuk mempercepat loading blog dengan plugin LiteSpeed Cache. Dimana panduan ini sudah saya terapkan di beberapa blog yang saya kelola, baik itu blog personal, website berita, dan web organisasi.

Namun, sebelum membahas lebih lanjut cara optimasi blog atau website menggunakan plugin LiteSpeed Cache. Alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu tentang LiteSpeed Cache.


Apa Itu LiteSpeed Cache?

LiteSpeed Cache (LSCache) adalah modul caching super canggih yang dibangun secara langsung pada web server LiteSpeed.

LSCache dapat membantu untuk meningkatkan kecepatan berbagai jenis website seperti personal blog, toko online dan lain sebagainya, termasuk blog yang dibangun dengan WordPress.

Plugin LiteSpeed Cache mengambil fungsionalitas LSCache dan menampilkannya di dashboard WordPress. Hal ini bertujuan untuk memudahkan kamu yang mungkin tidak memiliki pengetahuan tentang back-end sebuah blog untuk melakukan caching.

Dengan mengizinkan plugin LiteSpeed Cache ke blog yang kamu gunakan setiap hari, LSCache menjadi lebih mudah diakses dan lebih fleksibel.


Keuntungan Menggunakan Plugin LiteSpeed Cache

Ada banyak sekali keuntungan yang kamu dapat saat menggunakan plugin caching yang satu ini pada situs WordPress, diantaranya yaitu:

  • Full page caching dilakukan pada level server
  • CSS, JavaScript, HTML Minification and Combination
  • Browser Cache
  • Object Cache dengan Redis dan Memcached
  • Edge Side Includes (ESI)
  • Lazy Load Image, Lazy Load iframes, dan Optimize Image
  • HTTP/2 Push
  • Image Optimization
  • CDN Support
  • Database Optimization
  • Dan berbagai fitur canggih lainnya

Cara Mengaktifkan Redis/Memcached Untuk Object Cache

Salah satu fitur canggih yang saya sukai dari plugin ini adalah Object Cache. LSCache untuk WordPress dapat mendukung Object Cache dengan Redis/Memcached. Maka sebelum membahas konfigurasi lebih jauh, saya rekomendasikan untuk mengaktifkan Redis terlebih dahulu pada web hosting kamu.

Untuk caranya silahkan ikuti panduan dibawah ini.

  1. Login ke cPanel
  2. Masuk ke menu Select PHP Versions -> Pilih versi PHP yang dipakai.
  3. Gulir kebawah, kemudian Enable module Redis atau Memcached. Kalau saya hanya mengaktifkan Redis. Lalu klik Save.
    Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 2
  4. Selesai

Sampai tahap ini kita telah berhasil mengaktifkan Redis. Untuk membaca lebih lanjut tentang Object Cache dengan Redis/Memcached pada LSCache untuk situs WordPress, kamu dapat membacanya lebih lengkap melalui tautan website official LiteSpeed.


Tutorial Setting Plugin LiteSpeed Cache di WordPress Lengkap

Setelah berhasil menginstall plugin, mungkin sebagian orang masih bingung bagaimana cara konfigurasi LiteSpeed Cache yang tepat pada blog.

Kamu tidak perlu khawatir, karena saya akan membahas secara lengkap bagaimana cara setting Plugin LiteSpeed Cache yang tepat agar bekerja dengan optimal.

Langkah pertama silahkan kamu masuk ke LiteSpeed Cache. Kemudian pilih setting, lalu klik Show Advanced Option. Jika sudah mari kita konfigurasi satu per satu.

1. General

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 3

Pada tab ini merupakan konfigurasi untuk menentukan parameter expire-nya berbagai jenis konten dalam cache.

TTL (Time to Live) merupakan halaman/konten akan tetap di cache sebelum LSCache menganggap halaman tersebut expired.

Ketika sebuah halaman sudah mencapai TTL, maka halaman tersebut akan di purge dari cache. Konfigurasi default dari LSCache sudah dipastikan akan bekerja untuk banyak website, namun kamu juga boleh mengubahnya.

Tapi, jika kamu tidak memiliki pengetahuan soal TLL, maka saran terbaik dari saya adalah menggunakan konfigurasi default dari LSCache.

  • Enable LiteSpeed Cache: Enable
  • Default Public Cache TTL: Default
  • Default Private Cache TTL: Default
  • Default Front Page TTL: Default
  • Default Feed TTL: Default
  • Default 404 Page TTL: Default
  • Default 403 Page TTL: Default
  • Default 500 Page TTL: Default
  • Automatically Upgrade: Default

Penjelasan

  • Default Public Cache

Pengaturan TTL ini mengontrol halaman pada website. TTL yang lain adalah untuk jenis halaman situs yang spesifik

Constraints: Wajib lebih dari 30 detik

Customization: Nilai default-nya adalah delapan jam. Nilai lain yang bisa kamu gunakan adalah 1 jam (3600), 1 hari (86400), dan 1 minggu (604800). Jika blog kamu memiliki halaman yang tidak akan banyak perubahan, misalnya landing page, maka TTL yang lebih lama lebih baik.

  • Default Private Cache

Opsi ini mengatur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk me-cache sebuah halaman private.

Constraints: Antara 60 dan 3600 detik

Customization: Nilai default-nya adalah 30 menit (1800). Waktu yang paling lama untuk pengaturan TTL adalah 1 jam (3600).

  • Default Front Page TTL

Pada pengaturan ini mengontrol TTL halaman depan. Perlu kamu ingat bahwa ini dapat dipengaruhi oleh is_front_page() atau plugin pihak ketiga yang telah memilih untuk menggunakan Front Page TTL di halamannya, misalnya saja halaman WooCommerce.

Default: 1800

Constraint: Lebih dari 30 detik

Customization: Pengaturan default-nya adalah 30 menit. Halaman utama kerap menjadi halaman yang paling di perbarui, contohnya saja kamu membuat beberapa konten dalam satu hari. Selain itu, halaman utama juga merupakan halaman yang sering dikunjungi oleh orang – orang. Maka saran terbaik dari saya adalah menggunakan TTL yang lebih singkat waktunya.

  • Default Feed TTL

Default Feed TTL dapat mengatur feed blog kamu, Feed pada blog akan sangat membantu pengunjung untuk tetap up-to-date dengan konten – konten yang ada di blog kamu. Melakukan caching pada halaman feed bisa mengurangi load ini dan LSCache akan melakukan purgin terhadap update, komentar pada halaman feed agar tetap up-to-date.

Setting Default: 0 (Tidak cache feeds)

Opsi lain:

  1. Dibawah 30 – Diatur ke 30 detik
  2. Diatas 30 – Diatur ke angka yang kamu setting

Customization: Jika feed blog kamu sering diupdate, maka untuk opsi ini kamu tidak perlu mengatur TTL. Hal ini dikarenakan karena cache-nya akan di purge sesering mungkin secara konstan.

  • Default 404 TTL

TTL ini mengatur halaman yang menampilkan hasil 404. Semua situs yang mengeluarkan hasil 404 akan menggunakan value ini.

Pengaturan default: 3600

Opsi lain:

  1. 0 – LiteSpeed Cache tidak akan melakukan cache halaman 404
  2. Di bawah 30 – Diatur menjadi 30 detik
  3. Di atas 30 – Diatur sesuai dengan angka yang kamu masukkan

Customization: Nilai default pada 404 adalah 1 jam (3600). Sebenarnya, tidak lama spesifik yang disarankan untuk TTL ini karena semuanya tergantung pada blog kamu sendiri. Namun, jika 404 sering terjadi pada blog kamu, maka ada baiknya kamu melakukan cache pada periode waktu yang singkat.

  • Default 403 TTL

TTL yang satu ini mengontrol halaman yang menampilkan 403.

Pengaturan default: 3600

Opsi lain:

  1. 0 – LiteSpeed Cache tidak akan melakukan cache halaman 403
  2. Di bawah 30 – Diatur menjadi 30 detik
  3. Di atas 30 – Diatur sesuai dengan angka yang kamu masukkan

Customization: Nilai default untuk TTL ini adalah 1 jam (3600). Hasil 403 memang biasa disengaja, maka tidak ada salahnya memiliki waktu TTL yang lebih lama untuk pengaturan Default 403 TTL ini.

  • Default 500 TTL

TTL ini mengatur untuk hasil 500 Internal Server Error.

Pengaturan Default: 3600

Opsi lain:

  1. 0 – LiteSpeed Cache tidak akan melakukan cache halaman 500
  2. Di bawah 30 – Diatur menjadi 30 detik
  3. Di atas 30 – Diatur sesuai dengan angka yang kamu masukkan

Customization: Nilai default TTL ini adalah 1 jam (3600). 500 Internal Server Error sendiri memang lebih parah dibanding dengan 404 dan 403. Melakukan caching pada halaman ini bisa saja menyebabkan masalah di blog WordPress kamu.


2. Cache

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 4

Pada pengaturan ini bisa kamu gunakan untuk menentukan jenis konten apa saja yang akan di-cache. Ketika pertama kali menginstall plugin LiteSpeed Cache, secara default semua jenis cache dan browser cache sudah langsung “ON”.

Hal ini dikarenakan object caching dan browser caching bukanlah fungsi native dari LSCWP. Akan tetapi tipe caching lain memang sudah didukung oleh LiteSpeed. Jika kamu tidak memiliki pengetahuan tentang pengaturan ini, kamu bisa menggunakan pengaturan default. Namun, jika mengerti, boleh kamu sesuaikan. Berikut rekomendasi setting-an Cache.

  • Cache Logged-in Users: OFF
  • Cache Commenters: ON
  • Cache REST API: ON
  • Cache Login Page: ON
  • Cache favicon.ico: ON
  • Cache PHP Resources: ON
  • Cache Mobile: OFF

Penjelasan

Cache Logged-in Users

Pilihan ini digunakan untuk menyajikan logged-in users dengan data dari private cache. Ketika kamu login, memungkinkan setiap halaman memiliki konten private dan karena itu tidak bisa disajikan dari cache umum. Saya sendiri memilih untuk menonaktifkan cache logged-in users.

Cache Mobile

Pada opsi ini akan memperbolehkan pengunjung untuk menampilkan HTML terpisah pada perangkat dekstop dan mobile. Pemilik blog biasanya menggunakan opsi ini untuk theme yang belum responsive. Jika kamu menggunakan tema yang sudah responsive, maka kamu tidak perlu melakukan cache untuk tampilan mobile. Maka dari itu, saya pilih untuk menonaktifkan cache mobile, hal ini dikarenakan bahwa hampir semua tema sudah responsive.


3. Purge

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 5

Terkadang ada situasi dimana kamu akan melakukan purge ke halaman sebelum expire. Seperti yang sering saya lakukan, ketika sedang memperbarui konten atau setting blog, langsung melakukan purging pada sebuah halaman.

Nah, section ini memperbolehkan kamu untuk mengatur kegiatan tersebut. Aturan default-nya sudah bisa dijalankan untuk kebanyakan website. Berikut rekomendasi setting-an purge dibawah ini.

  • Purge All On Upgrade: Default
  • Auto Purge Rules For Publish/Update: Default
  • Scheduled Purge URLs: Default
  • Scheduled Purge Time: Default

Penjelasan

Purge All On Upgrade

Opsi ini bekerja apakah akan membersihkan semua halaman ketika sedang update dijalankan pada plugin yang terpasang di blog WordPress. Saya sangat menyarankan untuk tidak melakukan perubahan apapun pada opsi ini. Artinya, gunakan pengaturan default dari plugin LSCache.

Auto Purge Rules For Publish/Update

Ketika kamu sedang menerbitkan atau memperbarui artikel, halaman tambahan bisa saja berubah. Seperti daftar kategori, daftar tag, halaman depan blog, dan berbagai arsip lainnya juga bisa berubah.

Misalnya, kamu sedang membuat artikel tentang Blogging, kemudian kamu menerbitkannya dan memberi tag “Algoritma Google Update” serta menempatkannya di kategori “SEO”. Nah, beberapa halaman akan diperbarui, seperti halaman depan (homepage), arsip kategori SEO, halaman arsip tag “Algoritma Google Update” dan berbagai halaman lainnya.

LSCache bekerja untuk membersihkan semua halaman yang terpengaruh demi menghindari penyajian konten yang expire.

Jika kamu bingung soal opsi ini, kamu bisa gunakan pengaturan default plugin LiteSpeed Cache. Opsi default ini sudah dipastikan bekerja dengan optimal pada blog yang kamu kelola.


4. Exclude

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 6

Mungkin ada sebagian pemilik blog memiliki halaman tertentu yang sama sekali di-cache. Fitur ini memungkinkan pemiliki blog untuk mengecualikan bagian tertentu dari cache. Sebagian besar, situs blog tidak perlu mengubah pengaturan ini. Namun, LiteSpeed menyediakan fitur untuk kamu yang mungkin saja ingin membuat pengecualian khusus terhadap aturan cache.

  • Force Cache URIs: Default
  • Do Not Cache URIs: Default
  • Do Not Cache Query Strings: Default
  • Do Not Cache Categories: Default
  • Do Not Cache Tags: Default
  • Do Not Cache Cookies: Default
  • Do Not Cache User Agents: Default
  • Do Not Cache Roles: Default

5. Optimize

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 7

Ada banyak cara untuk mempercepat serta meningkatkan perfoma situs WordPress kamu. LSCache mendukung cara tersebut seperti CSS and JavaScript Minification and Combination, Asynchronous and Deferred load, HTTP/2 Push, dan masih banyak lagi. Untuk kamu yang ingin mengoptimasi website dengan fitur canggih yang diberikan plugin LiteSpeed Cache. Berikut rekomendasi setting-annya.

  • CSS Minify: ON
  • CSS Combine: ON
  • CSS HTTP/2 Push: ON
  • JS Minify: ON
  • JS Combine: ON
  • JS HTTP/2 Push: ON
  • CSS/JS Cache TTL: 604800 (rekomendasi value)
  • HTML Minify: ON
  • Inline CSS Minify: ON
  • Inline JS Minify: ON
  • Load CSS Asynchronously: OFF
  • Generate Critical CSS: OFF
  • Generate Critical CSS In Background: OFF
  • Separate CCSS Cache Post Types: Kosongkan
  • Separate CCSS Cache URIs: Kosongkan
  • Inline CSS Async Lib: ON
  • Load JS Deferred: ON
  • Exclude JQuery: ON
  • Remove Comments: OFF

6. Tuning

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 8

Fitur ini memungkinkan kamu untuk mengatur setting-an yang kamu pilih pada opsi Optimize. Misalnya saja, mungkin kamu ingin melakukan CSS Minification kecuali untuk salah satu style sheet. Kamu dapat memasukan CSS itu sebagai pengecualian pada fitur Tuning ini. Berikut rekomendasi settingan Tuning dibawah ini.

  • Combined CSS Priority: ON
  • Combined JS Priority: ON
  • Remove Query Strings: ON
  • Load Google Fonts Asynchronously: ON
  • Remove Google Fonts: OFF
  • Remove WordPress Emoji: ON

7. Media

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 9

Cara lain untuk mengoptimalkan sekaligus mempercepat loading situs blog kamu yaitu memuat gambar dengan sedikit beban untuk dikirimkan. Plugin LiteSpeed Cache mendukung dua metode sekaligus yakni, Lazy load dan Image optimization.

Namun, ada juga beberapa theme yang sudah mendukung lazy load ini. Jika tema yang kamu gunakan sudah mendukung lazy load, maka kamu tidak perlu mengaktifkan fitur ini. Berikut rekomendasi settingan Media dibawah ini.

  • Lazy Load Images: ON
  • Responsive Placeholder: ON
  • Generate Reponsive Placeholder In Background: ON
  • Lazy Load Iframes: ON
  • Inline Lazy Load Images Library: ON
  • Optimize Automatically: ON
  • Optimization Cron: ON
  • Optimize Original Images: ON
  • Remove Original Backups: OFF
  • Optimize WebP Versions: ON
  • Optimize Losslessly: ON
  • Preserve EXIF/XMP data: ON
  • Image WebP Replacement: ON
  • WebP For Extra srcset: ON

8. CDN (Content Delivery Network)

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 10

Plugin LiteSpeed Cache memberikan fitur dimana kamu dapat melakukan konfigurasi CDN untuk digunakan dengan WordPress. Jika kamu menggunakan Cloudflare, kamu tidak perlu mengatur apapun dalam opsi tab CDN. Ini dimaksudkan untuk reverse proxy CDN, bukan server proxy terdistribusi seperti Cloudflar.

Namun, bila kamu memiliki CDN dari MaxCDN, Photon, atau CDN77 dan lain sebagainya. Kamu bisa lakukan konfigurasi disini, saya sendiri menggunakan CDN dari Hostry.

  • Enable CDN: ON
  • CDN Mapping: Isi dengan URL CDN, misalnya https://i2.wp.com/irvannurfazri.com/
  • Include Image: ON
  • Include CSS: OFF
  • Include JS: OFF
  • Load JQuery Remotely: OFF
  • Quic Cloud API: OFF

9. Advanced

Cara Setting Plugin LiteSpeed Cache 11

Sudah saya katakan diatas, bahwa plugin LiteSpeed Cache untuk WordPress mendukung object cache dengan Redis atau Memcached.

Nah, jika kamu sudah mengikuti cara mengaktifkan Redis/Memcached diatas. Maka, kamu dapat melakukan konfigurasi tab Advanced ini. Coba perhatikan gambar diatas, sebelumnya saya telah mengaktifkan Redis, maka pada bagian status, Redis telah aktif.

  • Object Cache: ON
  • Method: Redis
  • Host: localhost
  • Port: Default
  • Default Object Lifetime: Default
  • Persistent Connection: ON
  • Persistent Connection: ON
  • Cache Wp-Admin: ON
  • Browser Cache: ON
  • Improve HTTP/HTTPS Compatibility: Default
  • Instant Click: OFF

Kesimpulan

LiteSpeed Cache adalah solusi terbaik untuk meningkatkan kecepatan blog yang kamu kelola. Selain gratis serta mudah konfigurasinya, LSCWP sudah terintegrasi langsung dengan LiteSpeed Web Server.

Untuk memasang plugin LiteSpeed Cache memang sangat mudah, kamu bisa memasangnya melalui directory WordPress atau langsung dari cPanel.

Namun untuk LiteSpeed Web Server kamu harus benar – benar teliti dalam memilih layanan hosting yang akan kamu gunakan. Artinya, pilihlah layanan hosting yang menggunakan web server LiteSpeed.

Kombinasi LiteSpeed Web Server dengan plugin LiteSpeed Cache akan membuat perfoma website kamu semakin luar biasa. Konfigurasi diatas sudah saya terapkan di beberapa website yang saya kelola, salah satunya adalah web HobiGame.net ini

Demikianlah artikel mengenai tutorial setting plugin LiteSpeed Cache WordPress, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Apabila ada kesalahan dalam penulisan atau tidak sepenuhnya paham. Silahkan diskusikan [ada form komentar dibawah ini.

Tentang Penulis

Irvan Nurfazri

No one can bring you true happiness except Allah

Instagram : ig.com/irvan_gen

1 Komentar

  • Mas saya udah aktivin redis di php sesuai dengan panduan,, tapi di settingan plugin’a ga aktiv. kira” kenapa tuh mas, ada solusi kah? Sebelumnya terimakasih karena artikel’a mantap

Tinggalkan Komentar